Cara Mengatasi Burnout Kerja

Istilah burnout syndrome pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog berkebangsaan Amerika – Jerman Bernama Herbert J. Freudenberger pada tahun 1974. Selain penemu indikasi burnout, beliau juga menjelaskan cara mengatasi burnout kerja.

Burnout syndrome pertama kali mengemuka saat Herbert menceritakan pengalamannya saat bekerja bersama para sukarelawan medis dalam sebuah klinik.

Pada awalnya, burnout identik dengan para pekerja pelayanan kemanusiaan yang berhadapan langsung dengan manusia (human service), seperti dokter, perawat, guru, polisi, dan lainnya.

Belakangan burnout dialami oleh hampir oleh seluruh pekerja pada sektor manusia ataupun sektor non manusia.

Mereka yang mengalami burnout tetap merasa lelah meskipun sudah istirahat cukup, mereka juga kurang bersemangat dalam beraktivitas sehari-hari.

Perawat yang mengalami burnout syndrome saat itu akan menghindar atau mengulur waktu saat menghadapi pekerjaan yang harus kontak dengan pasien.

Para perawat mulai memperlakukan pasien dengan kurang baik dengan mudah marah, cenderung dingin, menjaga jarak, cenderung tidak ingin terlibat dengan lingkungan kerjanya.

Maslach dan Jackson pada tahun 1981 menjelaskan bahwa burnout merupakan sindrom kelelahan emosional dan sinisme yang sering kali terjadi pada orang-orang yang bekerja.

Tiga Ciri Seseorang Mengalami Burnout

Burnout syndrome memiliki tiga ciri yang bisa dikenali saecara kasat mata yaitu; emotional exhaustion (kelelahan emosi), depersonalization (depersonalisasi), dan personal accomplishment (penurunan capaian diri).

a) Emotional Exhaustion (Kelelahan Emosional)

Ciri pertama dalam burnout syndrome yaitu kelelahan emosional dimana seseorang merasa tidak ingin sepenuhnya melakukan kegiatan yang melibatkan psikologi/emosi, seperti tertawa, bercanda, dan sejenisnya.

Kelelahan emosional juga ditandai dengan kelelahan yang berkepanjangan melampaui kelelahan fisik.

Burnout berbeda dengan kelelahan fisik. Lelah fisik dapat diobati dengan istirahat fisik; seperti duduk ataupun tidur.

b) Depersonalization (Depersonalisasi)

Ciri kedua dalam burnout syndrome yaitu depersonalisasi yang ditandai dengan sikap sinis dan cenderung menarik diri dari lingkungan kerja.

Dimensi ini disebut dengan depersonalisasi yaitu memisahkan diri dari orang lain, menunjukkan emosi yang dingin, menunjukkan reaksi negatif terhadap perilaku orang lain.

Depersonalisasi juga merupakan cara untuk terhindar dari rasa kecewa. Perilaku negatif seperti ini dapat memberikan dampak yang serius pada efektifitas kerja (Leiter & Maslach, 2004).

c) Personal Accomplishment (Penurunan Capaian Diri)

Ciri ketiga adalah capaian diri yang mengalami penurunan sehingga menunjukkan perasaan negatif, tidak senang dan kurang puas terhadap pekerjaannya (Maslach dan Jackson, 1981).

Capaian diri yang menurun juga ditunjukkan dengan hasil evaluasi diri yang buruk, rendahnya hubungan antar personal, kehilangan semangat, penurunan produktivitas, dan kurangnya kemampuan beradaptasi (Xiaoming et al., 2014).

Penurunan capaian diri juga ditandai dengan perasaan tidak berdaya, merasa semua tugas yang diberikan berat.

Ketika diri merasa tidak efektif, mereka cenderung mengembangkan rasa tidak mampu. Setiap pekerjaan terasa sulit dan tidak bisa dikerjakan, rasa percaya diri berkurang. Seseorang menjadi tidak percaya diri dan akhirnya orang lain tidak percaya dengannya.

Upaya Mengatasi Burnout

a) Berpikir Positif dan Fokus Pada Solusi

dr. Andreas Kurniawan pernah menyatakan bahwa kecemasan (permulaan dari burnout) berasal dari kekhawatiran. Berdasarkan data bahwa 95% kekhawatiran yang dirasakan itu tidak pernah terjadi. Adapun 5% dari kekhawatiran yang terjadi, maka sebagian besarnya bisa teratasi.

Salah satu strategi menghilangkan kecemasan adalah mengubah pertanyaan isi kepala dari What If, menjadi What Will I Do When Thats Happens.

Perubahan pertanyaan isi kepala tadi merupakan upaya memindahkan fokus dari fokus pada masalah menjadi fokus pada solusi.

Saat isi kepala fokus kepada solusi maka yang akan ditemui adalah solusi dari tiap permasalahan, sebaliknya jika isi kepala fokus kepada masalah maka yang akan terlihat hanyalah masalah dari tiap perkara yang ditemui, seperti itulah hukum Tarik menarik berlaku.

Manusia merupakan machine learning yang diberikan anugerah dengan kemampuan berpikir, namun diwaktu yang sama manusia diuji dengan ketidakmampuannya untuk berhenti berpikir.

Sebagai machine learning, manusia memiliki learning style dominance yang secara umum terbagi menjadi tiga: Visual, Auditory, Kinestetis.

Mereka yang dominan visual dan auditory biasanya lebih mudah cemas karena mampu lebih cepat mencerna informasi hanya berdasarkan penglihatan dan pendengaran, sebaliknya kinestetis akan lebih skeptis karena membutuhkan praktik untuk bisa menerima informasi.

b) Menetapkan Purpose, Visi, dan Goal

Seseorang lebih mudah mengalami burnout saat tidak memiliki tujuan yang clear dalam hidupnya. Saat tidak memiliki tujuan, maka tiap langkah dan keputusannya tidak mengarah kemanapun sehingga mudah menemukan stagnansi ditengah kegiatannya.

Stagnansi ini akan membawa pada kebingungan, kebingungan akan membawa pada kecemasan, kecemasn akan membawa pada stress dan burnout.

Menetapkan purpose, visi, dan goal hidup menjadikan langkah lebih terarah dan segala lelah yang hadir tidak begitu berpengaruh, baik itu Lelah fisik ataupun Lelah psikis, karena ada tujuan didepan yang menjadi motivasi.

Purpose adalah gambaran tujuan jangka panjang yang ingin digapai yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, memberikan makna, arah, dan motivasi.

Purpose biasa disusun melampaui usia satu generasi manusa, dengan kata lain purpose yang dituju bisa diwariskan dan memberikan dampak jangka Panjang kepaa generasi selanjutnya.

Visi adalah tujuan jangka menengah yang biasa disusun dengan interval lima tahunan. Visi bisa disusun, dievaluasi, dan direvisi dalam rentang waktu lima tahun dan merupakan upaya merealisasikan purpose menjadi target-target menengah lima tahunan.

Goal adalah tujuan jangka pendek yang dievaluasi dalam interval satu tahunan. Goal disusun dalam rangka memudahkan eksekusi visi lima tahunan menjadi target target jangka pendek satu tahunan.

c) Menikah

Menurut Maslach, Schaufeli, Leither (2001) status pernikahan juga berpengaruh terhadap timbulnya burnout. Seseorang yang tidak menikah (yang paling utama yaitu laki-laki) akan lebih mudah terkena burnout dibandingkan dengan yang sudah menikah.

Seseorang yang single berdasarkan pengalaman mengalami level burnout yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sudah bercerai.

Menurut Farber dan Maslach dalam Fatmawati (2012) dibandingkan antara seseorang yang memiliki anak dan yang tidak memiliki anak, maka seseorang yang memiliki anak cenderung mengalami tingkat burnout yang lebih rendah. Alasannya adalah:

(a) Keterlibatan dengan keluarga dan anak dapat melatih mental seseorang dalam menghadapi masalah eksternal.

(b) Kasih sayang dan dukungan sosial dari keluarga dapat membantu seseorang dalam mengatasi tuntutan emosional dalam pekerjaan.

(c) Seseorang yang telah berkeluarga memiliki pandangan yang lebih realistis.

Cara mengatasi burnout kerja bisa dengan upaya individual dan upaya lingkungan. Ulasan diatas adalah upaya individual untuk mengatasi burnout. Adapun upaya lingkungan harus dilakukan secara kolektif oleh semua person yang hidup bersama dalam suatu lingkungan, baik lingkungan keluarga, pekerjaan, pertamanan, hingga lingkungan masyarakat.

Upaya lingkungan bisa kita kontrol dengan memilih lingkungan mana dan li8ngkungan seperti apa kita hidup didalamnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *