Cara Menemukan Identitas Diri

Jumlah pencarian kata kunci ‘bagaimana cara menemukan identitas diri’ di google cukup tinggi. Penyebabnya karena maraknya fenomena kehilangan jati diri, krisis identitas, demotivasi, yang dialami oleh mayoritas anak muda hari ini.
Anak muda berusia antara 17 sampai 25 hari ini (tahun 2025), adalah mereka yang lahir antara tahun 2000 sampai 2008. Tahun dimana sosial media sudah menjadi konsumsi sehari hari sehingga mereka mengalami banjir informasi.
Bisa dibilang fenomena ini sudah ada sejak lama, bahkan lintas generasi, namun apakah intensitasnya sama? Atau hari ini jumlahnya jauh lebih besar? Sebenarnya apa penyebab perasaan kehilangan jati diri, krisis identitas, demotivasi bisa terjadi?
Makna Identitas
Akar kata Identitas berasal dari [Identidem: Berulang] dan [Essentie: Hakikat].
Identitas sejatinya adalah pengulangan yang membentuk sebuah kebiasaan, lalu berubah menjadi keahlian yang dikuasai, sehingga seseorang dikenal dengan keahlian tersebut.
Identitas kalian hari ini adalah sekumpulan pengulangan, kebiasaan, keahlian yang kalian lakukan di masa lalu sehingga orang sekitar mengasosiasikan kalian dengan hal itu.
Artinya identitas bisa berubah?
Ya! Identitas bisa berubah atau lebih tepatnya diubah oleh kalian sendiri sesuai dengan yang kalian inginkan.
Identitas hari ini adalah hasil dari sekumpulan pengulangan kebiasaan di masa lalu. Identitas tahun depan adalah hasil dari pengulangan kebiasaan hari ini hingga 365 hari kedepan.
Identitas lima tahun lagi adalah hasil dari sekumpulan pengulangan kebiasaan hari ini hingga hari ke (365 x 5 = 1.825) kedepan.
Pertanyaan besarnya; apakah kalian mau membentuk kebiasaan itu, atau kalian mau dibentuk oleh kebiasaan? ini dua hal yang berbeda, dan hasilnyapun akan berbeda.
Lupakan Hasil Fokus Pada Proses
Ada istilah ‘Start from the end’ (mulailah dari akhir), maksudnya mulailah dari ‘menentukan hasil akhir’ yang mau dicapai sebelum lainnya. Artinya mulai dari goal, target, visi, setelah itu baru susun langkah konkret menuju goal tersebut.
Istilah ini benar, tapi banyak yang salaha pada praktiknya karena hanya fokus pada goal, target, hasil, dan menomor duakan proses.
Fokus pada goal itu benar, fokus pada goal namun tidak fokus menjalani proses itu salah.
Orang sukses dan orang gagal bisa jadi punya goal yang sama yaitu sukses. Dua orang yang bertarung pasti punya goal yang sama yaitu menang. Yang membedakan antara mereka adalah prosesnya.
Fokus pada goal tanpa memikirkan proses adalah halusinasi. Fokus pada proses tanpa ada goal adalah tersesat di labirin rutinitas tanpa henti.
Goal memiliki peran sebagai penunjuk arah. Sedangkan proses memiliki peran memperpendek gap antara goal dan realita.
Secara teknis yang sebaiknya dilakukan adalah; Tentukan goal diawal, lalu lupakan. Selanjutnya fokus pada proses menuju goal tersebut; tentukan arahnya, temukan jalan jalan pintasnya, ajak mereka yang bisa mempercepat goal itu terwujud, evaluasi kegagalannya.
Kucing Aja Bisa Ubah Identitas
Seorang Psikolog Edward Thorndike pernah melakukan eksperimen di tahun 1898. Objek eksperimennya adalah kucing yang ditempatkan kedalam semacam kotak labirin berisi teka teki kognitif. Ada tombol untuk membuka pintu keluar, ada tali yang harus ditarik untuk membuka sekat, ada jalan buntu, ada juga pintu keluar berliku yang mengarah langsung pada makanan.
Saat pertama kali kucing ditempatkan di kotak labirin, mereka cenderung bergerak sporadis ke segala arah tanpa tujuan hingga akhirnya frustasi. Saat kali pertama mereka menemukan jalan keluar menuju makanan waktu yang dibutuhkan adalah 06:30 menit.
Seiring berjalannya waktu, kucing selalu memilih pintu keluar berliku menuju makanan daripada pintu keluar lain, dan waktu yang dibutuhkan untuk menuju pintu keluar semakin cepat, dari menit ke 6, 5, 4, 3, 2, 1 sampai hanya 24 detik.
Kesimpulan pertama, kebiasaan akan membentuk keahlian, keahlian akan membentuk identitas. Kucing eksperimen berubah identitasnya dari kucing yang buta labirin menjadi kucing pandai yang mengerti jalan tercepat keluar dari labirin.
Kesimpulan kedua, kita akan membangun identitas sesuai dengan hal hal yang menyenangkan dan menguntungkan bagi kita. Kucing memilih pintu keluar yang dibaliknya ada makanan meskipun berliku, daripada pintu keluar lain yang lebih mudah tapi tidak menyediakan apa apa.
Dua Langkah Mengubah Identitas
Otak manusia akan lebih mudah memahami informasi jika ada visualisasinya, seperti memahami tata ruang sebuah rumah akan lebih mudah jika ada gambar denahnya, atau mengenali wajah buronan akan lebih mudah jika ada sketsa wajahnya.
Memahami sesuatu dengan visualisasi akan jauh menghemat waktu dan energi daripada memahami sesuatu melalui sebuah deskripsi.
Itu kenapa penjelasan berupa infografis atau video berdurasi 5 menit misalnya, akan lebih mudah dipahami daripada artikel berisikan 1000 kata tanpa ada gambar didalamnya.
Hal ini berlaku pada pembentukan identitas baru yang kalian inginkan. Akan lebih mudah membentuk identitas baru jika kalian memiliki sosok yang ingin kalian tuju.
Jika ingin menjadi politisi kalian bisa memilih Anies Baswedan, Ahok, Adian Napitupulu misalnya sebagai benchmark.
Jika ingin menjadi entrepreneur kalian bisa memilih Sandiaga Uno, Susi Pudjiastuti, atau Timothy Ronald misalnya sebagai benchmark.
Jika ingin menjadi edukator kalian bisa memilih Gita Wirjawan, Ferry Irwandi, atau Analisa Widyanuingrum misalnya sebagai benchmark, dan seterusnya.
Otak manusia juga lebih mudah termotivasi jika mendapatkan reward atas apa yang diusahakan. Sebagaimana kucing labirin termotivasi memilih pintu keluar berliku namun terdapat makanan dibaliknya, daripada pintu keluar yang mudah namun tanpa makanan dibaliknya.
Maka memberikan reward reward kecil atas pencapaian diri menuju identitas baru akan sangat efektif untuk menjaga ritme perjalanan panjang menuju perubahan.
Contohnya dengan liburan keluar kota jika berhasil berhenti merokok selama 30 hari penuh demi mengubah identitas perokok menjadi bukan perokok. Atau wisata kuliner dengan bajet 1.000.000 jika berhasil konsisten menabung emas selama 6 bulan dengan kadar 1 gram per bulan demi mengubah identitas minus menjadi identitas surplus, dan seterusnya.